Wednesday, 7 January 2015

Profil Kesehatan Puskesmas Ambal 1 tahun 2013

BAB I
PENDAHULUAN
Puskesmas sebagai ujung tombak dalam pembangunan kesehatan memiliki peranan dalam pembangunan berwawasan kesehatan dengan berkonstribusi dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat,baik secara langsung maupun tidak langsung. Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan yang didirikan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan utama pelayanan puskesmas adalah memberikan pelayanan yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang kesehatan. Masyarakat merupakan subyek yang penting dalam pelayanan puskesmas.
Profil Kesehatan Puskesmas Ambal 1 memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi derajat kesehatan,upaya kesehatan, dan sumber daya kesehatan serta menyajikan data pendukung lainnya yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan dan data lingkungan. Keseluruhan data yang ada merupakan gambaran tingkat pencapaian penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) Bidang Kesehatan. Tujuan utama diterbitkannya Profil Kesehatan Puskesmas Ambal I ini adalah agar dapat diperoleh gambaran keadaan kesehatan di kecamatan Ambal dan sarana untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan,khususnya untuk tahun 2013.
Profil Kesehatan Puskesmas Ambal I ini terdiri dari 6(enam) bab, yaitu :
Bab I   : Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang tujuan penyusunan Profil Kesehatan
Bab II  : Gambaran Umum. Bab ini menyajikan gambaran umum dalam hal keadaan geografi, keadaan demografi, keadaan lingkungan dan keadaan perilaku masyarakat di kecamatan Ambal
Bab III            : Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang indicator keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan tahun 2013 yang mencakup tentang angka kematian, angka kesakitan, dan keadaan status gizi
Bab IV            : Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini merupakan penggambaran dari Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar, Pembinaan Kesehatan Lingkungan, dan Perbaikan Gizi Masyarakat
Bab  V : Situasi Sumber Dya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang Keadaan Sarana Kesehatan, Tenaga Kesehatan, Pembiayaan Kesehatan dan Sarana Informasi Kesehatan
Bab VI            : Penutup
� # - h 0YT ��S major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font: major-bidi;color:#0D0D0D;mso-themecolor:text1;mso-themetint:242;mso-ansi-language: EN-AU'>Sumber-sumber informasi yang mungkin terdapat mengenai morbiditas sangat beragam. Data yang paling cocok untuk analisis nasional atau regional adalah yang memungkinkan adanya penghitungan insiden penyakit, atau sekurang-kurangnya penyakit yang terdapat pada asuhan medis atau rumah sakit. Pedoman dan definisi yang disetujui secara resmi untuk pencatatan penyebab morbiditas dan pemilihan suatu kondisi tunggal, kalau diperlukan, ditujukan terutama untuk data pada episode asuhan kesehatan. Bentuk-bentuk lain data memerlukan pengembangan aturan lokal.

Masalah statistik morbiditas dimulai dengan definisi ‘morbiditas’ itu sendiri. Banyak tersedia ruang untuk perbaikan statistik morbiditas. Perbandingan data morbiditas internasional, saat ini, hanya sesuai untuk cakupan yang sangat terbatas dan untuk tujuan yang disebutkan dengan jelas. Informasi nasional dan internasional mengenai morbiditas harus diartikan sehubungan dengan sumbernya dan dengan pengetahuan yang telah ada mengenai mutu data, keandalan diagnostik, dan ciri-ciri demografi dan sosio-ekonomi.
Pada saat REVISI KEENAM ICD, yang disetujui tahun 1948, terdapat permintaan para administrator kesehatan masyarakat, pengelola asuhan kesehatan, pejabat kesejahteraan sosial dan peneliti di berbagai disiplin kesehatan, akan suatu klasifikasi untuk diterapkan pada morbiditas. Hasilnya, ICD sejak saat itu dibuat sesuai dengan pengelompokan data morbiditas, di samping kegunaan tradisionalnya untuk pencatatan mortalitas.  
Sejak saat itu aspek morbiditas terus melebar melalui revisi-revisi selanjutnya. Data morbiditas semakin banyak dipakai dalam perumusan kebijaksanaan dan program kesehatan, dan dalam pengelolaan, monitoring, dan evaluasinya. Data ini juga dipakai dalam epidemiologi, identifikasi kelompok beresiko, dan riset klinis (termasuk penelitian kejadian penyakit pada berbagai kelompok sosio-ekonomi).
Analisis morbiditas kondisi-tunggal adalah kondisi utama yang sedang diobati atau diperiksa selama episode perawatan kesehatan yang relevan. 
Kondisi utama adalah kondisi, yang didiagnosa pada akhir episode asuhan kesehatan, yang menyebabkan pasien memerlukan pengobatan atau pemeriksaan.
Diagnosis, yaitu penetapan jenis penyakit tertentu berdasarkan analisis hasil anamnesa dan pemeriksaan yang teliti. Penetapan ini penting sekali artinga untuk menetukan pengobatan atau tindakan berikutnya. 
Diagnosis ditinjau dari segi prosesnya, yaitu :
  • Diagnosis awal atau diagnosis kerja, yaitu penetapan diagnosis awal yang belum diikuti dengan pemeriksaan yang lebih mendalam 
  • Diagnosis banding (deferensial diagnosis), yaitu sejumlah diagnosis (lebih dari 1) yang ditetapkan karena adanya kemungkinan-kemungkinan tertentu guna pertimbangan medis untuk ditetapkan diagnosisnya lebih lanjut 
  • Diagnosis akhir, yaitu diagnosis yang menjadi sebab mengapa pasien dirawat dan didasarkan pada hasil-hasil pemeriksaan yang mendalam

Diagnosis ditinjau dari segi keadaan penyakitnya, yaitu :
  • Diagnosis utama, yaitu jenis penyakit utama yang diderita pasien setelah dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam 
  • Diagnosis komplikasi, yaitu penyakit komplikasi karena berasal dari penyakit utamanya 
  • Diagnosis kedua, ketiga dst atau Diagnosis Co-Morbid, yaitu penyakit penyerta diagnosis utama yang bukan berasal dari penyakit utamanya atau sudah ada sebelum diagnosis utama ditemuka
Kondisi lain adalah kondisi yang terdapat bersamaan atau berkembang selama episode asuhan kesehatan, dan mempengaruhi asuhan pasien. (Kondisi lain yang walau pun berhubungan dengan episode sebelumnya, namun tidak mempengaruhi kondisi saat ini, tidak boleh dicatat).
Kalau terdapat lebih dari satu kondisi, harus dipilih kondisi yang membutuhkan penggunaan sumber-daya lebih banyak. Kalau tidak ada diagnosis yang ditegakkan, maka gejala, temuan abnormal, atau masalah pasien harus dipilih sebagai kondisi utama.
Sebagai tambahan pada kondisi utama, catatan medis harus, sedapat mungkin, juga berisi daftar terpisah yang berisi kondisi atau masalah lain yang dihadapi selama episode perawatan kesehatan.

referensi:
  • WHO. Geneva. International Statistical Classification of  Diseases and Related Health Problems Volume 2 Instruction Manual. WHO.2005
  • Mayang Anggraeni. Pelatihan ICD. Jakarta. 2007
BAB II
GAMBARAN UMUM

A.    Keadan Geografi
Kecamatan Ambal mempunyai luas wilayah 6.240,696 Ha atau 62,40696 Km2, terletak pada posisi garis lintang 70 42’83” – 70 48’96” LS dan 1090 41’09” – 1090 46’36” BT.
Kecamatan Ambal mempunyai 2(dua) Puskesmas yaitu Puskesmas Ambal I dan Puskesmas Ambal II yang masing masing mempunyai 16 desa binaan. Adapun batas batas desa binaan Puskesmas Ambal I adalah sebagai berikut :
1. Sebelah utara           : desa binaan Puskesmas Ambal II
2. Sebelah timur          : Kecamatan Mirit
3. Sebelah selatan        : Samudra Indonesia
4. Sebelah barat           : Kecamatan Buluspesantren
Wilayah Kelolaan Puskesmas Ambal I berada pada sisi selatan wilayah Kabupaten Kebumen yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, yang secara umum kondisi geografisnya adalah daerah dataran rendah, dengan rata-rata ketinggian 7,5 meter diatas permukaan laut. Luas wilayah 16 desa kelolaan di Puskesmas Ambal I adalah 35,490 Km2.
Secara administrative wilayah kelolaan Puskesmas Ambal I terbagi menjadi 16 Desa. Wilayah desa yang paling luas adalah desa Entak yaitu 4,549 Km2.
Analogi pembagian dan pemanfaatan lahan di wilayah kelolaan Puskesmas Ambal I 45% merupakan tanah sawah, sedangkan 55% merupakan tanah kering yang terdiri dari lahan pertanian tegalan dan lahan bangunan tempat tinggal.
B.     Keadaan Demografi
Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Ambal I sampai dengan tahun 2013 adalah                       29.033  jiwa yang tersebar di 16 desa dengan rumah tangga/KK  7,099 KK atau rata-rata 4 jiwa per rumah tangga. Namun persebaran tersebut tidak merata,karena konsentrasi penduduk berbeda pada tiap desa. Tingkat kepadatan penduduk 1/km2,dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi desa Ambal Resmi sebesar 1,21/ km2 dan terendah adalah desa Entak sebesar 0,45/ km2 .
Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi/rendahnya tingkat kelahiran. Selain itu komposisi penduduk juga mencerminkan Rasio Beban Tangguan (Dependency Ratio) yaitu perbandingan antara penduduk umur produktif (umur 0-14 Tahun + umur 65 tahun keatas dengan penduduk produktif (umur 15-64 tahun). Tingginya Dependency Ratio mencerminkan besarnya beban tanggungan pemerintah secara ekonomi di wilayahnya. Rasio Beban Tanggungan (Dependency Ratio) untuk wilayah Puskesmas Ambal I sebesar 61.38%. mengalami peningkatan disbanding tahun lalu yang sebesar 58,71%. Hal ini mencerminkan pertambahan jumlah penduduk berpengaruh terhadap Rasio Beban Tanggungan pemerintah.
Selain itu, data tentang tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan indicator pokok kualitas pendidikan formal. Pada tahun 2012 prosentase penduduk yang telah menempuh pendidikan setingkat diploma dan sarjana sebesar 128 laki-laki dan 111 perempuan. Sedangkan pada tahun 2013 sebesar 164 laki-laki dan 166 perempuan. Ini menunjukan terjadi peningkatan kualitas pendidikan formal di masyarakat.

C.    Keadaan Lingkungan
        1.      Rumah Sehat dan Rumah Bebas Jentik
Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang pengendalian Masalah Kesehatan dari sebanyak 5.701 (80,3%) rumah yang diperiksa dan dilaporkan oleh petugas sanitarian Puskesmas Ambal I, sebanyak  3.441 (60,4%) yang dinyatakan sehat. Target SPM yaitu sebesar 65% sehingga perlu lebih ditingkatkan lagi program penyehatan lingkungan dan pemukiman meskipun tahun ini menunjukan adanya peningkatan dari tahun kemarin yaitu jumlah rumah yang sehat 2012 sebesar 1,760 (57,5%) dari 3.061 rumah yang diperiksa.
Kompilasi data yang terkumpul tahun 2013, dari 5.701 (80,28%)  rumah yang diperiksa, sebanyak 5.701  rumah bebas jentik, dengan angka bebas jentik (ABJ) mencapai 100%. Angka ini menunjukan sudah melebihi target SPM yaitu sebesar 95%.
  
      2.      Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM)
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak orang dan berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) yang sehat yaituyang memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas ruangan/lantai yang sesuai dengan jumlah pengunjung dan memiliki pencahayaan yang memadai.
Berdasarkan data yang diperoleh, dari 64 TUMP yang ada di wilayah Puskesmas Ambal I, yang diperiksa berjumlah 60 dan yang masuk kategori sehat berjumlah 33 (55%). Angka ini menunjukan penurunan dibanding tahun sebelumnya sehingga diperlukan pembinaan dari pihak Puskesmas kepada pengelola TUPM.

     3.      Akses Terhadap Air Bersih
Pada tahun 2013, dari jumlah keluarga yang ada yang berhasil diperiksa sebanyak 5.701  keluarga, yang dapat mengakses air bersih sebanyak 5.701 KK dengan rincian berturut-turut KEMASAN 0(0%), LEDENG 0(0%),SPT 0(0%),SGL 5.701 (100%), MATA AIR 0(0%),PAH 0(0%). Ini menandakan cakupan akses air bersih di wilayah Puskesmas Ambal I sangat baik.
     4.      Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Dari 5.701 KK yang yang diperiksa, menunjukan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah Jamban 4.375 , Tempat sampah 5.223 , pengelolaan air limbah 4.748. sedangkan yang berkategori sehat adalah jamban:3.846 (88,2%),tempat sampah 3.872 (72,3%), pengelolaan air limbah 3.441(72,5%). Ini menunjukan adanya peningkatan kualitas sarana sanitasi dasar dibandingkan tahun 2012.
D.    Keadaan Perilaku Masyarakat
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, digunakan indicator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
    1.      Rumah Tangga Sehat
      Data yang dapat diperoleh dari Seksi Kesehatan Lingkungan menunjukan bahwa di Puskesmas Ambal 1 terdapat Rumah Tangga Sehat sebesar 3.441(60,4%) dari 5.701 rumah tangga yang diperiksa.
    1.      ASI Eksklusif
Manfaat Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi meliputi aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologik, aspek kecerdasan, aspek neurologik, aspek ekonomi dan aspek penundaan kehamilan. Selain itu ASI juga dapat melindungi bayi dari sindroma kematian mendadak. Di Puskesmas Ambal 1, jumlah seluruh bayi yang ada  sebesar 472 sedangkan yang diberi ASI eksklusif sebesar 144 (30,5%). Walaupun mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012 yaitu sebesar 22,7%, tetapi angka ini masih jauh dibawah target SPM yaitu 80%.
    2.      Posyandu
Posyandu merupakan wahana kesehatan bersumberdaya masyarakat yang memberikan layanan 5 kegiatan utama (KIA,KB, Gizi, Imunisasi dan P2 Diare) dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat.
Berdasarkan data yang dilaporkan, jumlah Posyandu yang ada di lingkup Puskesmas Ambal 1 pada tahun 2013  sebanyak  54 Posyandu dengan rincian sebagai berikut :
·         Pratama     :4, Madya        : 8,  Purnama   : 18,  Mandiri  : 24
Dari seluruh jumlah strata posyandu yang ada,posyandu aktif sebesar 42(77,78%).



BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A.    Mortalitas
Kejadian kematian dalam masyarakat dapat digunakan sebagai indicator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.
    1.      Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi di lingkup Puskesmas Ambal 1 adalah 23,1 per 1000 kelahiran atau 11 kematian dari 476 kelahiran hidup. AKB tahun 2013 menunjukan penurunan dari tahun kemarin yang sebesar 28,9 per 1000 kelahiran hidup atau 15 kematian dari 534 kelahiran hidup. 
    2.      Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI)
Pada tahun 2013 tidak ditemukan adanya kematian ibu maternal. Ini menunjukan bahwa tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas cukup baik.
B.     Morbiditas 
    1.      Penyakit Menular
a)      Penyakit TB Paru
Dari data yang berhasil dikumpulkan menunjukan kasus BTA positif adalah sebesar 14 kasus. Jumlah kasus BTA(+) yang diobati sebesar 100%. Angka kematian akibat TB Paru tidak ditemukan di Puskesmas Ambal 1. sedangkan angka kesembuhan mencapai 78,57%.
b)     Penyakit HIV/AIDS, Malaria dan Kusta
Untuktahun 2013  jenis penyakit HIV/AIDS dan malaria tidak ditemukan kasus, sedangkan Kusta ditemukan 3 kasus barudi wilayah Puskesmas Ambal 1.
    2.      Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas dengan pelaksanaan program imunisasi. Adapun penyakit – penyakit tersebut antara lain adalah adalah tetanus neonatorum, campak, difteri, polio, hepatitis B. Untuk wilayah Puskesmas Ambal 1 ditemukan penyakit PD3I sebanyak 4 kasus yaitu penyakit campak. ini berbeda pada tahun 2012 yang mana kasus PD3I tidak ditemukan. Dan ini menunjukan program imunisasi  di wilayah Puskesmas Ambal 1 perlu ditingkatkan.


     3.      Penyakit Potensi KLB/Wabah
a)      Diare
Jumlah perkiraan kasus diare 2013 adalah sebesar 1.193. Sedangkan kasus yang ditemukan adalah 294 kasus dan yang berhasil ditangani adalah sebesar 294 (100%).
b)     DBD dan Filariasis
Untuk penyakit DBD ditemukan 1 kasus di desa entak dan berhasil ditangani. Sedangkan penyakit Filariasis tidak ditemukan di wilayah Puskesmas Ambal 1.
C.    Status Gizi
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indicator, antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Protein (WUS KEP).
   1.      Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram ) merupakan salah satu factor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. Berdasarkan data yang diperoleh terdapat bayi dengan BBLR sejumlah 7 bayi (1,5%) dari 476 bayi yang ditimbang. Ini menunjukan angka yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya yaitu bayi dengan BBLR sebanyak 29 bayi (2,1%) dari 519 bayi yang ditimbang.
    2.      Status Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah satu indicator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk mengukur status gizi balita menggunakan salah satu tehnik yaitu indeks berat badan menurut umur (BB/U). adapun hasil perhitungan yang diperoleh dikategorikan menjadi 4 kelompok yaitu : gizi lebih (z-score > +2SD); gizi baik (z-score -2SD sampai +2SD)gizi kurang (z-score -2SD sampai - 3SD)gizi buruk (z-score < -3SD).
 Jumlah gizi lebih  5 (0,30%), gizi baik 1.617(98,06%), gizi kurang 25(1,52%), sedangkan balita gizi buruk di wilayah Puskesmas Ambal 1 adalah sebesar  2 balita (0,12%).

0 comments:

Post a Comment