BAB
I
PENDAHULUAN
Puskesmas sebagai ujung
tombak dalam pembangunan kesehatan memiliki peranan dalam pembangunan
berwawasan kesehatan dengan berkonstribusi dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat,baik secara langsung maupun tidak langsung. Puskesmas merupakan
sarana pelayanan kesehatan yang didirikan dan dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Tujuan utama pelayanan puskesmas adalah
memberikan pelayanan yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
di bidang kesehatan. Masyarakat merupakan subyek yang penting dalam pelayanan puskesmas.
Profil Kesehatan Puskesmas Ambal 1 memuat berbagai data tentang kesehatan,
yang meliputi derajat kesehatan,upaya kesehatan, dan sumber daya kesehatan
serta menyajikan data pendukung lainnya yang berhubungan dengan kesehatan
seperti data kependudukan dan data lingkungan. Keseluruhan data yang ada
merupakan gambaran tingkat pencapaian penyelenggaraan pelayanan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) Bidang Kesehatan. Tujuan utama
diterbitkannya Profil Kesehatan Puskesmas Ambal I ini adalah agar dapat
diperoleh gambaran keadaan kesehatan di kecamatan Ambal dan sarana untuk
mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan,khususnya untuk tahun 2013.
Profil
Kesehatan Puskesmas Ambal I ini terdiri dari 6(enam) bab, yaitu :
Bab
I : Pendahuluan. Bab ini menyajikan
tentang tujuan penyusunan Profil Kesehatan
Bab II : Gambaran Umum. Bab ini menyajikan gambaran
umum dalam hal keadaan geografi, keadaan demografi, keadaan lingkungan dan keadaan
perilaku masyarakat di kecamatan Ambal
Bab III : Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini
berisi uraian tentang indicator keberhasilan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan tahun 2013 yang mencakup tentang angka kematian, angka kesakitan, dan
keadaan status gizi
Bab IV : Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini
merupakan penggambaran dari Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar, Pembinaan
Kesehatan Lingkungan, dan Perbaikan Gizi Masyarakat
Bab V : Situasi
Sumber Dya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang Keadaan Sarana Kesehatan,
Tenaga Kesehatan, Pembiayaan Kesehatan dan Sarana Informasi Kesehatan
Bab VI : Penutup
� #
- h 0YT ��S major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:
major-bidi;color:#0D0D0D;mso-themecolor:text1;mso-themetint:242;mso-ansi-language:
EN-AU'>Sumber-sumber informasi yang mungkin terdapat mengenai morbiditas sangat
beragam. Data yang paling cocok untuk analisis nasional atau regional adalah
yang memungkinkan adanya penghitungan insiden penyakit, atau sekurang-kurangnya
penyakit yang terdapat pada asuhan medis atau rumah sakit. Pedoman dan definisi
yang disetujui secara resmi untuk pencatatan penyebab morbiditas dan pemilihan
suatu kondisi tunggal, kalau diperlukan, ditujukan terutama untuk data pada
episode asuhan kesehatan. Bentuk-bentuk lain data memerlukan pengembangan
aturan lokal.
Masalah statistik morbiditas dimulai dengan definisi ‘morbiditas’ itu
sendiri. Banyak tersedia ruang untuk perbaikan statistik morbiditas.
Perbandingan data morbiditas internasional, saat ini, hanya sesuai untuk
cakupan yang sangat terbatas dan untuk tujuan yang disebutkan dengan jelas.
Informasi nasional dan internasional mengenai morbiditas harus diartikan
sehubungan dengan sumbernya dan dengan pengetahuan yang telah ada mengenai mutu
data, keandalan diagnostik, dan ciri-ciri demografi dan sosio-ekonomi.
Pada saat REVISI KEENAM
ICD, yang disetujui tahun 1948, terdapat permintaan para administrator
kesehatan masyarakat, pengelola asuhan kesehatan, pejabat kesejahteraan sosial
dan peneliti di berbagai disiplin kesehatan, akan suatu klasifikasi untuk
diterapkan pada morbiditas. Hasilnya, ICD sejak saat itu dibuat sesuai dengan
pengelompokan data morbiditas, di samping kegunaan tradisionalnya untuk
pencatatan mortalitas.
Sejak saat itu aspek
morbiditas terus melebar melalui revisi-revisi selanjutnya. Data morbiditas
semakin banyak dipakai dalam perumusan kebijaksanaan dan program kesehatan, dan
dalam pengelolaan, monitoring, dan evaluasinya. Data ini juga dipakai dalam
epidemiologi, identifikasi kelompok beresiko, dan riset klinis (termasuk
penelitian kejadian penyakit pada berbagai kelompok sosio-ekonomi).
Analisis morbiditas
kondisi-tunggal adalah kondisi utama yang sedang
diobati atau diperiksa selama episode perawatan kesehatan yang relevan.
Kondisi utama adalah
kondisi, yang didiagnosa pada akhir episode asuhan kesehatan, yang menyebabkan pasien
memerlukan pengobatan atau pemeriksaan.
Diagnosis, yaitu
penetapan jenis penyakit tertentu berdasarkan analisis hasil anamnesa dan
pemeriksaan yang teliti. Penetapan ini penting sekali artinga untuk menetukan
pengobatan atau tindakan berikutnya.
Diagnosis ditinjau dari
segi prosesnya, yaitu :
- Diagnosis
awal atau diagnosis kerja, yaitu penetapan diagnosis awal yang belum
diikuti dengan pemeriksaan yang lebih mendalam
- Diagnosis
banding (deferensial diagnosis), yaitu sejumlah diagnosis (lebih dari 1)
yang ditetapkan karena adanya kemungkinan-kemungkinan tertentu guna
pertimbangan medis untuk ditetapkan diagnosisnya lebih lanjut
- Diagnosis
akhir, yaitu diagnosis yang menjadi sebab mengapa pasien dirawat dan
didasarkan pada hasil-hasil pemeriksaan yang mendalam
Diagnosis ditinjau dari
segi keadaan penyakitnya, yaitu :
- Diagnosis
utama, yaitu jenis penyakit utama yang diderita pasien setelah dilakukan
pemeriksaan yang lebih mendalam
- Diagnosis
komplikasi, yaitu penyakit komplikasi karena berasal dari penyakit
utamanya
- Diagnosis
kedua, ketiga dst atau Diagnosis Co-Morbid, yaitu penyakit penyerta
diagnosis utama yang bukan berasal dari penyakit utamanya atau sudah ada
sebelum diagnosis utama ditemuka
Kondisi lain
adalah kondisi yang terdapat bersamaan atau berkembang selama episode asuhan
kesehatan, dan mempengaruhi asuhan pasien. (Kondisi lain yang walau pun
berhubungan dengan episode sebelumnya, namun tidak mempengaruhi kondisi saat
ini, tidak boleh dicatat).
Kalau terdapat
lebih dari satu kondisi, harus dipilih kondisi yang membutuhkan penggunaan
sumber-daya lebih banyak. Kalau tidak ada diagnosis yang ditegakkan, maka
gejala, temuan abnormal, atau masalah pasien harus dipilih sebagai kondisi
utama.
Sebagai
tambahan pada kondisi utama, catatan medis harus, sedapat mungkin, juga berisi
daftar terpisah yang berisi kondisi atau masalah lain yang dihadapi selama
episode perawatan kesehatan.
referensi:
- WHO.
Geneva. International Statistical Classification of Diseases and
Related Health Problems Volume 2 Instruction Manual. WHO.2005
- Mayang
Anggraeni. Pelatihan ICD. Jakarta. 2007
BAB
II
GAMBARAN
UMUM
A.
Keadan
Geografi
Kecamatan
Ambal mempunyai luas wilayah 6.240,696 Ha atau 62,40696 Km2,
terletak pada posisi garis lintang 70 42’83” – 70 48’96”
LS dan 1090 41’09” – 1090 46’36” BT.
Kecamatan
Ambal mempunyai 2(dua) Puskesmas yaitu Puskesmas Ambal I dan Puskesmas
Ambal II yang masing masing mempunyai 16 desa binaan. Adapun
batas batas desa binaan Puskesmas Ambal I adalah sebagai berikut :
1.
Sebelah utara : desa binaan
Puskesmas Ambal II
2.
Sebelah timur : Kecamatan Mirit
3.
Sebelah selatan : Samudra Indonesia
4.
Sebelah barat : Kecamatan
Buluspesantren
Wilayah
Kelolaan Puskesmas Ambal I berada pada sisi selatan wilayah Kabupaten Kebumen
yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, yang secara umum kondisi
geografisnya adalah daerah dataran rendah, dengan rata-rata ketinggian 7,5
meter diatas permukaan laut. Luas wilayah 16 desa kelolaan di Puskesmas Ambal I
adalah 35,490 Km2.
Secara
administrative wilayah kelolaan Puskesmas Ambal I terbagi menjadi 16 Desa. Wilayah
desa yang paling luas adalah desa Entak yaitu 4,549 Km2.
Analogi
pembagian dan pemanfaatan lahan di wilayah kelolaan Puskesmas Ambal I 45%
merupakan tanah sawah, sedangkan 55% merupakan tanah kering yang terdiri dari
lahan pertanian tegalan dan lahan bangunan tempat tinggal.
B.
Keadaan
Demografi
Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas
Ambal I sampai dengan tahun 2013 adalah 29.033 jiwa yang tersebar di 16 desa dengan rumah
tangga/KK 7,099 KK atau rata-rata 4 jiwa
per rumah tangga. Namun
persebaran tersebut tidak merata,karena konsentrasi penduduk berbeda pada tiap
desa. Tingkat kepadatan penduduk 1/km2,dengan tingkat kepadatan
penduduk tertinggi desa Ambal Resmi sebesar 1,21/ km2 dan terendah
adalah desa Entak sebesar 0,45/ km2 .
Komposisi
penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi/rendahnya tingkat
kelahiran. Selain itu komposisi penduduk juga mencerminkan Rasio Beban Tangguan
(Dependency Ratio) yaitu perbandingan antara penduduk umur produktif (umur 0-14
Tahun + umur 65 tahun keatas dengan penduduk produktif (umur 15-64 tahun).
Tingginya Dependency Ratio mencerminkan besarnya beban tanggungan pemerintah
secara ekonomi di wilayahnya. Rasio Beban Tanggungan (Dependency
Ratio) untuk wilayah Puskesmas Ambal I sebesar 61.38%. mengalami peningkatan
disbanding tahun lalu yang sebesar 58,71%. Hal ini mencerminkan pertambahan
jumlah penduduk berpengaruh terhadap Rasio Beban Tanggungan pemerintah.
Selain itu, data tentang tingkat
pendidikan yang ditamatkan merupakan indicator pokok kualitas pendidikan
formal. Pada tahun 2012 prosentase penduduk yang telah menempuh pendidikan
setingkat diploma dan sarjana sebesar 128 laki-laki dan 111 perempuan.
Sedangkan pada tahun 2013 sebesar 164 laki-laki dan 166 perempuan. Ini
menunjukan terjadi peningkatan kualitas pendidikan formal di masyarakat.
C.
Keadaan
Lingkungan
1.
Rumah Sehat dan Rumah Bebas Jentik
Berdasarkan
data yang diperoleh dari bidang pengendalian Masalah Kesehatan dari sebanyak
5.701 (80,3%) rumah yang diperiksa
dan dilaporkan oleh petugas sanitarian Puskesmas Ambal I, sebanyak 3.441 (60,4%) yang dinyatakan sehat. Target SPM yaitu sebesar 65% sehingga perlu
lebih ditingkatkan lagi program penyehatan lingkungan dan pemukiman meskipun
tahun ini menunjukan adanya peningkatan dari tahun kemarin yaitu jumlah rumah
yang sehat 2012 sebesar 1,760 (57,5%) dari 3.061 rumah yang diperiksa.
Kompilasi data
yang terkumpul tahun 2013, dari 5.701 (80,28%) rumah
yang diperiksa, sebanyak 5.701 rumah bebas jentik,
dengan angka bebas jentik (ABJ) mencapai 100%. Angka ini menunjukan sudah
melebihi target SPM yaitu sebesar 95%.
2.
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM)
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan
suatu sarana yang dikunjungi banyak orang dan berpotensi menjadi tempat
penyebaran penyakit. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) yang sehat
yaituyang memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas ruangan/lantai yang sesuai
dengan jumlah pengunjung dan memiliki pencahayaan yang memadai.
Berdasarkan data yang diperoleh, dari 64 TUMP yang ada di
wilayah Puskesmas Ambal I, yang diperiksa berjumlah 60 dan yang masuk kategori
sehat berjumlah 33 (55%). Angka ini menunjukan penurunan dibanding tahun
sebelumnya sehingga diperlukan pembinaan dari pihak Puskesmas kepada pengelola
TUPM.
3.
Akses
Terhadap Air Bersih
Pada tahun 2013, dari jumlah keluarga
yang ada yang berhasil diperiksa sebanyak 5.701 keluarga, yang dapat mengakses air bersih
sebanyak 5.701 KK dengan rincian berturut-turut
KEMASAN 0(0%), LEDENG 0(0%),SPT 0(0%),SGL 5.701 (100%), MATA AIR 0(0%),PAH
0(0%). Ini menandakan cakupan akses air bersih di wilayah Puskesmas Ambal I
sangat baik.
4.
Kepemilikan
Sarana Sanitasi Dasar
Dari 5.701
KK
yang yang diperiksa, menunjukan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah Jamban
4.375 , Tempat sampah 5.223 , pengelolaan air limbah 4.748. sedangkan yang
berkategori sehat adalah jamban:3.846 (88,2%),tempat sampah 3.872 (72,3%),
pengelolaan air limbah 3.441(72,5%). Ini menunjukan adanya peningkatan kualitas
sarana sanitasi dasar dibandingkan tahun 2012.
D.
Keadaan
Perilaku Masyarakat
Untuk menggambarkan keadaan perilaku
masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, digunakan
indicator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
1.
Rumah Tangga
Sehat
Data yang dapat diperoleh dari Seksi
Kesehatan Lingkungan menunjukan bahwa di Puskesmas Ambal 1 terdapat Rumah
Tangga Sehat sebesar 3.441(60,4%) dari 5.701 rumah tangga yang diperiksa.
1.
ASI Eksklusif
Manfaat Air Susu
Ibu (ASI) bagi bayi meliputi aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologik,
aspek kecerdasan, aspek neurologik, aspek ekonomi dan aspek penundaan
kehamilan. Selain itu ASI juga dapat melindungi bayi dari sindroma kematian
mendadak. Di Puskesmas Ambal 1, jumlah seluruh bayi yang ada sebesar 472 sedangkan yang diberi ASI eksklusif
sebesar 144 (30,5%). Walaupun mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012
yaitu sebesar 22,7%, tetapi angka ini masih jauh dibawah target SPM yaitu 80%.
2.
Posyandu
Posyandu
merupakan wahana kesehatan bersumberdaya masyarakat yang memberikan layanan 5
kegiatan utama (KIA,KB, Gizi, Imunisasi dan P2 Diare) dilakukan dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat.
Berdasarkan data
yang dilaporkan, jumlah Posyandu yang ada di lingkup Puskesmas Ambal 1 pada
tahun 2013 sebanyak 54 Posyandu dengan rincian sebagai berikut :
·
Pratama :4, Madya :
8, Purnama : 18, Mandiri : 24
Dari seluruh jumlah strata posyandu
yang ada,posyandu aktif sebesar 42(77,78%).
BAB III
SITUASI DERAJAT
KESEHATAN
A.
Mortalitas
Kejadian kematian dalam masyarakat dapat
digunakan sebagai indicator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan
dan program pembangunan kesehatan lainnya.
1.
Angka
Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian
Bayi di lingkup Puskesmas Ambal 1 adalah 23,1 per 1000 kelahiran atau 11
kematian dari 476 kelahiran hidup. AKB tahun 2013 menunjukan penurunan dari
tahun kemarin yang sebesar 28,9 per 1000 kelahiran hidup atau 15 kematian dari
534 kelahiran hidup.
2.
Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI)
Pada tahun 2013 tidak ditemukan adanya kematian ibu
maternal. Ini menunjukan bahwa tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status
gizi dan kesehatan ibu, kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan
terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa
nifas cukup baik.
B.
Morbiditas
1.
Penyakit
Menular
a)
Penyakit
TB Paru
Dari data yang berhasil dikumpulkan
menunjukan kasus BTA positif adalah sebesar 14 kasus. Jumlah kasus BTA(+) yang
diobati sebesar 100%. Angka kematian akibat TB Paru tidak ditemukan di
Puskesmas Ambal 1. sedangkan angka kesembuhan mencapai 78,57%.
b)
Penyakit HIV/AIDS, Malaria dan Kusta
Untuktahun
2013 jenis penyakit HIV/AIDS dan malaria
tidak ditemukan kasus, sedangkan Kusta ditemukan 3 kasus barudi wilayah
Puskesmas Ambal 1.
2.
Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I)
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas
dengan pelaksanaan program imunisasi. Adapun penyakit – penyakit tersebut
antara lain adalah adalah tetanus neonatorum, campak, difteri, polio, hepatitis
B. Untuk wilayah Puskesmas Ambal 1 ditemukan penyakit PD3I sebanyak 4 kasus
yaitu penyakit campak. ini berbeda pada tahun 2012 yang mana kasus PD3I tidak
ditemukan. Dan ini menunjukan program imunisasi
di wilayah Puskesmas Ambal 1 perlu ditingkatkan.
3.
Penyakit
Potensi KLB/Wabah
a)
Diare
Jumlah perkiraan kasus diare 2013 adalah
sebesar 1.193. Sedangkan kasus yang ditemukan adalah 294 kasus dan yang
berhasil ditangani adalah sebesar 294 (100%).
b)
DBD
dan Filariasis
Untuk penyakit DBD ditemukan 1 kasus di
desa entak dan berhasil ditangani. Sedangkan penyakit Filariasis tidak
ditemukan di wilayah Puskesmas Ambal 1.
C.
Status
Gizi
Status gizi masyarakat dapat diukur
melalui beberapa indicator, antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR), status gizi balita, status gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Protein
(WUS KEP).
1.
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram )
merupakan salah satu factor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal
dan neonatal. Berdasarkan data yang diperoleh terdapat bayi dengan BBLR
sejumlah 7 bayi (1,5%) dari 476 bayi yang ditimbang. Ini menunjukan angka yang
lebih baik dibanding tahun sebelumnya yaitu bayi dengan BBLR sebanyak 29 bayi
(2,1%) dari 519 bayi yang ditimbang.
2.
Status
Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah satu
indicator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk mengukur
status gizi balita menggunakan salah satu tehnik yaitu indeks berat badan
menurut umur (BB/U). adapun hasil perhitungan yang diperoleh dikategorikan
menjadi 4 kelompok yaitu : gizi lebih (z-score > +2SD); gizi baik (z-score
-2SD sampai +2SD)gizi kurang (z-score -2SD sampai - 3SD)gizi buruk (z-score
< -3SD).
Jumlah
gizi lebih 5 (0,30%), gizi baik 1.617(98,06%),
gizi kurang 25(1,52%), sedangkan balita gizi buruk di wilayah Puskesmas Ambal 1
adalah sebesar 2 balita (0,12%).








0 comments:
Post a Comment