Hukum Newton diterapkan pada benda yang dianggap sebagai
partikel, dalam evaluasi pergerakan misalnya, panjang benda tidak dihiraukan,
karena obyek yang dihitung dapat dianggap kecil, relatif terhadap jarak yang
ditempuh. Perubahan bentuk (deformasi) dan rotasi dari suatu obyek juga tidak diperhitungkan
dalam analisisnya. Maka sebuah planet dapat dianggap sebagai suatu titik atau
partikel untuk dianalisa gerakan orbitnya mengelilingi sebuah bintang.
Dalam bentuk aslinya, hukum gerak Newton tidaklah cukup
untuk menghitung gerakan dari obyek yang bisa berubah bentuk (benda tidak
padat). Leonard Euler pada tahun 1750 memperkenalkan generalisasi hukum gerak
Newton untuk benda padat yang disebut hukum gerak Euler, yang dalam perkembangannya juga dapat digunakan untuk
benda tidak padat. Jika setiap benda dapat direpresentasikan sebagai sekumpulan
partikel-partikel yang berbeda, dan tiap-tiap partikel mengikuti hukum gerak
Newton, maka hukum-hukum Euler dapat diturunkan dari hukum-hukum Newton. Hukum
Euler dapat dianggap sebagai aksioma dalam menjelaskan gerakan dari benda yang memiliki dimensi.
Ketika kecepatan mendekati kecepatan
cahaya, efek dari relativitas khusus
harus diperhitungkan.
Hukum pertama Newton
Hukum I: Setiap benda akan
mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya
yang bekerja untuk mengubahnya.
Hukum
ini menyatakan bahwa jika resultan gaya (jumlah vektor dari semua gaya yang bekerja pada benda) bernilai nol, maka
kecepatan benda tersebut konstan. Dirumuskan secara matematis
menjadi:
Artinya :
- Sebuah benda yang sedang diam akan tetap diam kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya.
- Sebuah benda yang sedang bergerak, tidak akan berubah kecepatannya kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya.
Hukum pertama newton adalah penjelasan kembali dari hukum
inersia yang sudah pernah dideskripsikan oleh Galileo. Dalam bukunya Newton memberikan penghargaan pada Galileo
untuk hukum ini. Aristoteles
berpendapat bahwa setiap benda memilik tempat asal di alam semesta: benda berat
seperti batu akan berada di atas tanah dan benda ringan seperti asap berada di
langit. Bintang-bintang akan tetap berada di surga. Ia mengira bahwa sebuah
benda sedang berada pada kondisi alamiahnya jika tidak bergerak, dan untuk satu
benda bergerak pada garis lurus dengan kecepatan konstan diperlukan sesuatu
dari luar benda tersebut yang terus mendorongnya, kalau tidak benda tersebut
akan berhenti bergerak. Tetapi Galileo menyadari bahwa gaya diperlukan untuk
mengubah kecepatan benda tersebut (percepatan), tapi untuk mempertahankan kecepatan tidak diperlukan
gaya. Sama dengan hukum pertama Newton : Tanpa gaya berarti tidak ada
percepatan, maka benda berada pada kecepatan konstan.
Hukum kedua Newton
Hukum kedua menyatakan bahwa total gaya pada
sebuah partikel sama dengan banyaknya perubahan momentum linier p terhadap waktu :
Karena hukumnya hanya berlaku untuk sistem dengan
massa konstan, variabel massa (sebuah konstan) dapat dikeluarkan dari operator diferensial dengan menggunakan aturan
diferensiasi. Maka,
Dengan F adalah total gaya yang bekerja, m
adalah massa benda, dan a adalah percepatan benda. Maka total gaya yang
bekerja pada suatu benda menghasilkan percepatan yang berbanding lurus.
Massa yang bertambah atau berkurang dari suatu
sistem akan mengakibatkan perubahan dalam momentum. Perubahan momentum ini
bukanlah akibat dari gaya. Untuk menghitung sistem dengan massa yang bisa
berubah-ubah, diperlukan persamaan yang berbeda.
Sesuai dengan hukum pertama,
turunan momentum terhadap waktu tidak nol ketika terjadi perubahan arah,
walaupun tidak terjadi perubahan besaran. Contohnya adalah gerak melingkar beraturan. Hubungan ini juga
secara tidak langsung menyatakan kekekalan
momentum: Ketika resultan gaya yang bekerja pada benda nol, momentum
benda tersebut konstan. Setiap perubahan gaya berbanding lurus dengan perubahan
momentum tiap satuan waktu.
Hukum kedua ini perlu perubahan jika relativitas khusus
diperhitungkan, karena dalam kecepatan sangat tinggi hasil kali massa dengan
kecepatan tidak mendekati momentum sebenarnya.
Impuls
Impuls
J muncul ketika sebuah gaya F bekerja pada suatu interval waktu Δt,
dan dirumuskan sebagai
Impuls adalah suatu konsep yang digunakan untuk
menganalisis tumbukan.
Sistem dengan massa berubah
Sistem dengan massa berubah, seperti roket yang
bahan bakarnya digunakan dan mengeluarkan gas sisa, tidak termasduk dalam sistem
tertutup dan tidak dapat dihitung dengan hanya mengubah massa
menjadi sebuah fungsi dari waktu di hukum kedua. Alasannya, seperti yang
tertulis dalam An Introduction to Mechanics karya Kleppner dan Kolenkow,
adalah bahwa hukum kedua Newton berlaku terhadap partikel-partikel secara
mendasar. Pada mekanika klasik, partikel memiliki massa yang konstant. Dalam
kasus partikel-partikel dalam suatu sistem yang terdefinisikan dengan jelas,
hukum Newton dapat digunakan dengan menjumlahkan semua partikel dalam sistem:
dengan Ftotal adalah total gaya
yang bekerja pada sistem, M adalah total massa dari sistem, dan apm
adalah percepatan dari pusat massa
sistem.
Sistem dengan massa yang berubah-ubah seperti
roket atau ember yang berlubang biasanya tidak dapat dihitung seperti sistem
partikel, maka hukum kedua Newton tidak dapat digunakan langsung. Persamaan
baru digunakan untuk menyelesaikan soal seperti itu dengan cara menata ulang
hukum kedua dan menghitung momentum yang dibawa oleh massa yang masuk atau
keluar dari sistem:
dengan u adalah kecepatan dari massa yang
masuk atau keluar relatif terhadap pusat massa dari obyek utama. Dalam beberapa
konvensi, besar (u dm/dt) di sebelah kiri persamaan,
yang juga disebut dorongan,
didefinisikan sebagai gaya (gaya yang dikeluarkan oleh suatu benda sesuai
dengan berubahnya massa, seperti dorongan roket) dan dimasukan dalam besarnya F.
Maka dengan mengubah definisi percepatan, persamaan tadi menjadi
Hukum Kedua: Perubahan dari gerak selalu
berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki arah
yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya dan benda.
Hukum ketiga Newton
|
“
|
Hukum
ketiga : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan
berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama
besar dan berlawanan arah.
|
”
|
Benda
apapun yang menekan atau menarik benda lain mengalami tekanan atau tarikan yang
sama dari benda yang ditekan atau ditarik. Kalau anda menekan sebuah batu
dengan jari anda, jari anda juga ditekan oleh batu. Jika seekor kuda menarik
sebuah batu dengan menggunakan tali, maka kuda tersebut juga
"tertarik" ke arah batu: untuk tali yang digunakan, juga akan menarik
sang kuda ke arah batu sebesar ia menarik sang batu ke arah kuda.
Hukum
ketiga ini menjelaskan bahwa semua gaya adalah interaksi antara benda-benda
yang berbeda, maka tidak ada gaya yang bekerja hanya pada satu benda. Jika
benda A mengerjakan gaya pada benda B, benda B secara
bersamaan akan mengerjakan gaya dengan besar yang sama pada benda A dan
kedua gaya segaris. Seperti yang ditunjukan di diagram, para peluncur es (Ice
skater) memberikan gaya satu sama lain dengan besar yang sama, tapi arah yang
berlawanan. Walaupun gaya yang diberikan sama, percepatan yang terjadi tidak
sama. Peluncur yang massanya lebih kecil akan mendapat percepatan yang lebih
besar karena hukum kedua Newton. Dua gaya yang bekerja pada hukum ketiga ini
adalah gaya yang bertipe sama. Misalnya antara roda dengan jalan sama-sama
memberikan gaya gesek.
Secara
sederhananya, sebuah gaya selalu bekerja pada sepasang benda, dan tidak pernah
hanya pada sebuah benda. Jadi untuk setiap gaya selalu memiliki dua ujung.
Setiap ujung gaya ini sama kecuali arahnya yang berlawanan. Atau sebuah ujung
gaya adalah cerminan dari ujung lainnya.
Secara
matematis, hukum ketiga ini berupa persamaan vektor satu dimensi, yang bisa
dituliskan sebagai berikut. Asumsikan benda A dan benda B memberikan gaya
terhadap satu sama lain.
Dengan
Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan
Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.
Newton
menggunakan hukum ketiga untuk menurunkan hukum kekekalan momentum,
namun dengan pengamatan yang lebih dalam, kekekalan momentum adalah ide yang
lebih mendasar (diturunkan melalui teorema Noether dari relativitas Galileo dibandingkan hukum ketiga, dan tetap berlaku pada kasus
yang membuat hukum ketiga newton seakan-akan tidak berlaku. Misalnya ketika medan gaya memiliki momentum, dan dalam mekanika
kuantum.
Contoh Soal:
Sebuah
mobil mempunyai massa 3.000 kg. Dari keadaan diam mulai bergerak setelah 12
sekon kecepatan mobil mencapai 6 m/s. Hitunglah gaya yang bekerja pada mobil !
Penyelesaian:
Diketahui : m = 3 000 kg
vo = 0 m/s
vt = 6 m/s
t = 12 s
Ditanyakan : F = …… ?
Penyelesaian:
Diketahui : m = 3 000 kg
vo = 0 m/s
vt = 6 m/s
t = 12 s
Ditanyakan : F = …… ?
Jawab
: Mencari percepatan (a)
∆v
a = ---------
Δt
(6 – 0) m/s
a = ---------------
(12 – 0) s
a = 0,5 m/s2
Mencari gaya (F)
F = m . a
F = 3 000 kg . 0,5 m/s2
F = 1 500 N
∆v
a = ---------
Δt
(6 – 0) m/s
a = ---------------
(12 – 0) s
a = 0,5 m/s2
Mencari gaya (F)
F = m . a
F = 3 000 kg . 0,5 m/s2
F = 1 500 N








0 comments:
Post a Comment