1. doa akan belajar.
Radhiitu bil laahi rab ba; wabil islaamidiina wabi Muhammadin Nabiy yaw warasuula; rab bi zidnii 'ilma, war zuq nii fah ma, aamiin.
artinya:
Aku telah rela Allah Tuhanku, islam agamaku dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT Wahai Tuhan Allah, tambahkanlah ilmuku, dan anugrahillah kepadaku, faham terhadap ilmu itu.Amiin (Ya Allah kabulkanlah permohonanku)
2.doa selesai belajar
Radhiitu bil laahi rab ba; wabil islaamidiina wabi Muhammadin Nabiy yaw warasuula; rab bi zidnii 'ilma, war zuq nii fah ma, aamiin.
artinya:
Aku telah rela Allah Tuhanku, islam agamaku dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT Wahai Tuhan Allah, tambahkanlah ilmuku, dan anugrahillah kepadaku, faham terhadap ilmu itu.Amiin (Ya Allah kabulkanlah permohonanku)
2.doa selesai belajar
Alla hu ma arinil haq qa haqqa war zuq nit tibaa 'ah (ittiba 'ah) wa arinil baa thila baathila war zuq nij tinaa bah; Alhamdu lil laa hi rabbil 'aalamin.
artinya:
Ya Allah, perlihatkanalah kepadaku, kebenaran itu sebagai suatu hal yang benar, dan anugrahillah rizqi kepadaku kekuatan untuk mengikuti kebenaran itu. Dan perlihatkanlah kepadaku kesalahan itu sebagai suatu hal yang salah dan anugrahillah rizqi kepadaku, kekuatan untuk menjahui kesalahan itu. Sebagai puji bagi Allah Tuhan semesta alam. amin.
Ridha secara bahasa menerima dengan suka hati, secara istilah diartikan sikap menerima atas
pemberian dan anugerah yang diberikan oleh Allah dengan di iringi sikap
menerima ketentuan syariat Islam secara ikhlas dan penuh ketaatan, serta menjauhi dari
perbuatan buruk(maksiyat), baik lahir ataupun bathin.
Kata ridha berasal dari bahasa Arab yang makna
harfiahnya mengandung pengertian senang, suka, rela, menerima dengan sepenuh
hati, serta menyetujui secara penuh , sedang lawan katanya adalah benci atau
tidak senang. Kata ridha ini lazim dihubungkan dengan eksistensi Tuhan dan
manusia, seperti Allah ridha kepada orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh, sedangkan dengan manusia seperti seorang ibu ridha anaknya merantau
untuk menuntut ilmu , ridha erat kaitannya dengan sikap dan pemahaman manusia
atas karunia dan nikmat Allah.
Dalam dunia tasawuf, kata ridha memiliki arti tersendiri yang
masih berhubungan dengan sikap kepasrahan seseorang di hadapan kekasih-Nya.
Sikap ini merupakan wujud dari rasa cinta pada Allah dengan menerima apa saja yang telah
dikehendaki oleh-Nya tanpa ada paksaan dalam menjalaninya. Dengan kata lain,
ridha lebih memfokuskan perhatian yang ditujukan kepada upaya mengembangkan
emosi ridha dalam hati calon sufi kepada Tuhan. Maka janganlah kita berharap
memperoleh ridha Tuhan, bila dalam hati kita sendiri tidak tumbuh dengan subur
emosi ridha kepada-Nya. Di sini ditanamkan kesadaran bahwa ada tidaknya, atau
besar kecilnya ridha Tuhan pada seseorang tergantung pada ada tidaknya atau
besar kecilnya ridha hatinya kepada Tuhan.
Ridha kepada Tuhan, menurut para sufi;
mengandung makna yang luas, diantaranya: Tidak menentang pada qadha dan qadar
Tuhan, menerimanya dengan senang hati, mengeluarkan perasaan benci dari hati
sehingga yang tinggal di dalamnya hanyalah perasaan senang dan gembira, merasa
senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat, tidak
meminta surga dari Tuhan dan tidak meminta supaya dijauhkan dari neraka, tidak
berusaha sebelum turunnya qadha dan qadar, tidak merasa pahit dan sakit sesudah
turunnya, bahkan perasaan senang bergelora di waktu cobaan atau musibah datang.
Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan. Berbeda dengan orang-orang yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka selalu ridha apabila melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam hatinya selalu merasa kurang apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka perbuat, bermakna merasa puas hati apabila aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan selalu mengganggu terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut hawa nafsu yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya dalam kubangan dosa. Orang-orang yang seperti inilah dengan indahnya Allah telah menjelaskan dalam surat At-Taubah ayat 96:
Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan. Berbeda dengan orang-orang yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka selalu ridha apabila melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam hatinya selalu merasa kurang apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka perbuat, bermakna merasa puas hati apabila aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan selalu mengganggu terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut hawa nafsu yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya dalam kubangan dosa. Orang-orang yang seperti inilah dengan indahnya Allah telah menjelaskan dalam surat At-Taubah ayat 96:
يَحْلِفُوْنَ
لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَرْضَى
عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِيْنَ
“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu
ridha kepada mereka, tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka,
Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang berbuat fasik.”
Orang-orang inilah yang selalu bersepakat dalam
berbuat kemungkaran, ridha dalam melakukan maksiyat, dan kelak apabila sampai
akhir hayatnya tidak sempat bertaubat serta minta ampun kepada-Nya, telah Allah
sediakan neraka sebagai pelabuhan terakhir untuknya, dalam pertengahan ayat
yang ke-7 dari surat Az-Zumar di sebutkan:
وَلاَ
يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ
Artinya: “……….., dan Dia tidak me-ridhai
kekafiran bagi hamba-Nya,………..”
Pemahaman ayat diatas adalah, jikalau seseorang
selalu berpuas hati akan perbuatan yang Allah telah haramkan, namun dalam
hatinya tidak ada keinginan untuk merubah dengan memohon ampunan-Nya, maka yang
akan menjadi tabungan baginya adalah semakin banyak perbuatan buruk yang akan
ia sesali besok di akhirat atas segala segala tingkah laku buruknya sewaktu
hidup di dunia. Dengan kata lain, menghadirkan hati dengan bersikap benci
kepada semua perbuatan yang dapat membawa kepada ke-kufur-an adalah salah satu
bentuk penolakan sebelum segalanya terlambat, inilah salah satu cara supaya
kita terhindar dari semua perkara yang di larang oleh Allah, untuk kemudian
kita suci-kan hati dengan menjalankan perintah dengan penuh keyakinan dan
selalu mengingat-Nya, sehingga sampai kepada peringkat orang-orang yang meminta
ampun kepada rabb-Nya dan menjadi bagian kepada orang-orang pilihan yang
benar-benar telah di ampunkan atas segala kekhilafannya.
Konsep ini sejalan dengan isyarat al-Quran
surat Al-Baqarah ayat 222:
إِنَّ اللهَ
يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“………..,, Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Syekh Maulana Jalaluddin al-Rumi menggambarkan
para sufi yang berhati ridha kepada Allah, antara lain sebagai berikut : “ Aku
perkenalkan para wali, yang mulutnya tidaklah berkomat-kamit dengan lafadz
do’a; mereka adalah orang-orang mulia yang tunduk dengan hati ridha. Mereka
memandang haram permohonan untuk menolak qadha. Mereka melihat
bahwa pada qadha dan qadar Tuhan itu ada rasa nikmat yang khas, dan memandang
kufur upaya memohon kelepasan dari-Nya. Berprasangka baik telah membuka dan
memenuhi hati mereka, sehingga tidaklah mereka memakai pakaian biru karena
sedih. Apa saja yang datang kepada mereka, menggembirakan hati mereka; ia akan
berubah menjadi api kehidupan, kendati ia yang datang itu api; racun yang
berada di kerongkongan mereka, mereka pandang seperti gula; dan batu di jalanan
seperti permata; sama bagi mereka yang baik dengan yang buruk. Semua sikap ini
berkembang dari “husnuzzan”, prasangka baik mereka. Berdo’a bagi mereka suatu
kekufuran, karena bila mereka melakukannya itu berarti mereka mengatakan: Ya
Tuhan kami, rubahlah qadha ini sehingga menjauh dari kami, atau rubahlah qadha
ini sehingga dapat membawa keuntungan untuk kami. Bagaimanakah jadinya dunia
ini, bila ia harus berjalan menurut keinginan manusia, bukan menurut qadha dan
qadar-Nya? Demikianlah antara lain sikap sufi yang hatinya dipenuhi ridha
kepada Tuhan. Walaupun berdo’a di syariatkan oleh agama, mereka karena mencapai
taraf kerohanian yang tinggi, tidak merasa pantas lagi meminta ini dan itu kepada
Allah.
Seperti dalam Hadith Qudsi:
قَالَ اللهُ :
مَنْ لَمْ يَرْضَى بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَشْكُرْ بِنِعْمَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ
بِبَلاَئِيْ فَلْيَخْرُجْ تَحْتَ سَمَائِيْ وَلْيَطْلُبْ رَبًّا سِوَائِيْ
Artinya:
“Allah berfirman kepada rasul SAW: Barangsiapa yang tidak ridha atas segala hukum perintah, larangan, janji qadha dan qadar-Ku, dan tidak bersyukur atas segala nikmat-nikmat-Ku, serta tidak sabar atas segala cobaan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku yang selama ini engkau jadikan sebagai atapmu, dan carilah Tuhan lain selain diri-Ku (Allah)”.
“Allah berfirman kepada rasul SAW: Barangsiapa yang tidak ridha atas segala hukum perintah, larangan, janji qadha dan qadar-Ku, dan tidak bersyukur atas segala nikmat-nikmat-Ku, serta tidak sabar atas segala cobaan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku yang selama ini engkau jadikan sebagai atapmu, dan carilah Tuhan lain selain diri-Ku (Allah)”.
Dalam surat at-Taubah ayat 32:
يُرِيْدُوْنَ
أَنْ يُطْفِئُوْا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ
يُتِمَّ نُوْرَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama)
Allah dengan mulut (ucapan- ucapan mereka), dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”








0 comments:
Post a Comment